Kabar perkembangan dari vaksin corona terus berdatangan setiap harinya. Salah satunya datang dari perusahaan farmasi papan atas, yaitu BionTech dan Pfizer. Kedua perusahaan tersebut telah memberikan informasi perkembangan terkait vaksin yang sedang mereka kembangkan.

Namun, baik BionTech maupun Pfizer, keduanya menegaskan bahwa vaksinnya belum diuji secara klinis hingga ke tahap final. Artinya, kedua vaksin yang sedang mereka kembangkan, belum bisa didistribusikan. Kedua perusahaan tersebut juga menegaskan, bahwa mereka masih membutuhkan pengujian untuk vaksinnya.

Fakta Menarik Seputar Vaksin BionTech dan Pfizer

vaksin corona
Vaksin corona

Dilansir dari The Guardian, vaksin yang sedang dikembangkan oleh kedua perusahaan farmasi tersebut, telah mengalami beberapa perkembangan sebagai berikut:

1.      Belum Ada Masalah

Meski belum masuk ke tahap uji klinis final, namun vaksin yang dikembangkan oleh kedua perusahaan tersebut, sejauh ini belum ada masalah serius. Meski begitu, hingga saat ini pengumpulan data terkait pengujian vaksin masih terus dilakukan oleh kedua pihak yang bersangkutan.

Menurut profesor kedokteran di University of East Anglia, Paul Hunter, menyebutkan bahwa hanya ada beberapa efek samping saja. Efek samping biasanya muncul setelah vaksinasi. Efek sampingnya seperti demam, atau sakit lengan saja.

BionTech dan Pfizer adalah jenis vaksin baru. Menurut Paul Hunter, mungkin saja vaksin bisa menimbulkan alergi pada salah satu komponennya.

2.      Belum Dipastikan Mampu Mencegah Penularan Virus

Vaksin Pfizer dan BionTech, hingga artikel ini ditulis, belum ada kejelasan apakah keduanya mampu melindungi dari infeksi Covid-19 atau hanya melindungi dari gejala yang berkembang saat terjadi infeksi saja.

Menurut pihak Pfizer sendiri, jika vaksin bisa menghentikan infeksi, seharusnya juga bisa menghentikan penyebaran atau penularannya.

3.      Belum Ada Kepastian Apakah Vaksin Bisa Mencegah Gejala Parah

Hingga saat ini, studi yang dilakukan oleh kedua perusahaan tersebut, dirancang agar bisa mendeteksi apakah vaksin bisa melindungi pasien dari gejala corona yang parah atau tidak. Namun, perusahaan Pfizer mengaku belum mempublikasikan data yang mereka hasilkan.

4.      Vaksin Berhasil Pada 90% Orang

BionTech dan Pfizer, telah mengklaim bahwa vaksin mereka sudah efektif pada 90% orang yang mereka uji. Namun, menurut pakar virus dari University of Leeds, Dr. Stephen Griffin, mengatakan cukup sulit untuk bisa menjelaskan kenapa vaksin tidak berhasil pada pasien tanpa kita mengetahui pasien tersebut.

Griffin menjelaskan, vaksin bisa bekerja pada orang yang berbeda secara berlainan juga. Artinya, setiap orang memiliki respon yang berbeda di dalam populasi.

5.      Relawan Vaksin Mulai dari Usia 12 Hingga 85 Tahun

Kedua perusahaan tersebut mengatakan bahwa sudah melibatkan relawan mulai dari usia 12 hingga 85 tahun. Namun, data relawan-relawannya masih belum dirlis ke publik. Namun, vaksin tersebut kebanyakan tidak berhasil pada lansia dan tidak seefektif pada relawan yang usianya muda.

Hal di atas dikarenakan, lansia tidak selalu meningkatkan respons kekebalan yang efektif pada infeksi alami. Namun, pihak BionTech dan Pfizer, memaparkan bahwa mereka akan melihat data-datanya.

6.      Perlindungan Vaksin Belum Dipastikan

Sampai artikel ini ditulis, vaksin BionTech dan Pfizer memiliki efektivitas sebesar 90%. Efektivitas tersebut dihitung 7 hari setelah vaksinasi atau suntikan kedua. Akan tetapi, hasilnya bisa saja berubah seiring dengan pengumpulan data-datanya dalam jangka panjang.

Kabarnya, penelitian lanjutan akan dilakukan guna mendeteksi tingkat perlindungannya. Penelitian pun mencakup pada tanggapan-tanggapan lain seperti antibodi, kekebalan, dan sel T.

Itulah update terbaru seputar vaksin corona. Simak terus perkembangan berita tentang virus dan vaksin Covid-19 terbaru di Halodoc yang selalu update setiap harinya.